Kesenian Budaya Jepang

Meski wilayahnya tak seluas Indonesia, namun Jepang memiliki kesenian yang beragam, yang tidak kalah dengan Insonesia. Beberapa kesenian Jepang yang menarik tersebut, di antaranya sebagai berikut.

1. Bonsai

Bonsai adalah seni untuk mengatur tanaman-tanaman dalam pot bunga layaknya pohon berukuran besar. Pemilik tanaman bisa mengatur tanamannya (pohon kerdil/ kecil) dengan bentuk sesuai dengan yang diinginkan. Bonsai ini sangat terkenal, bahkan hingga di luar Jepang. Di Indonesia sendiri, kesenian bonsai sudah mewabah ke semua lapisan masyarakat.

2. Kabuki

Kabuki bisa juga disebut dengan teater (bila di Indonesia) dengan pemain yang semuanya berdandan sangat menor dengan warna-warna menyolok. Tentu saja kabuki ini tak memiliki karakter laki-laki. Karakter tokoh di kabuki adalah perempuan itu sebabnya dilambangkan dengan “menor”. Bilapun pemainnya ada yang lak-laki, mereka harus rela didandani sebagai perempuan.

3. Noh

Bila di Indonesia, Noh disebut dengan teater musikal atau pertunjukan teater yang pemainnya tak hanya berdialog satu sama lain, melainkan juga menyanyi.

4. Kyogen

Bila di Indonesia, Kyogen mirip dengan ketoprak atau teater yang disajikan dengan hal-hal yang bersifat lucu dan membuat tertawa para penontonnya.

5. Bunraku

Bunraku adalah teater yang pemainnya bukan manusia melainkan boneka. Biasanya boneka yang dimainkan tersebut diiringi dengan iringan musik yang sangat merdu.

6. Sado

Sado merupakan salah satu kesenian Jepang yang sangat terkenal di seluruh dunia. Sado adalah seni atau upacara meminum teh. Tak sembarang membuat dan meminum teh, karena dalam upacara minum teh ini proses pembuatan tehnya saja cukup lama, yakni 3 jam.

7. Ikebana

Ikebana merupakan seni merangkai bunga. Kesenian ini juga sangat terkenal hingga ke seluruh penjuru dunia.

Masyarakat Jepang memiliki kebanggaan tersendiri terhadap budaya mereka. Meskipun zaman telah berubah, mereka tidak pernah meninggalkan kebudayaan Jepang yang telah mengakar kuat dalam diri mereka.

Hal tersebut sebenarnya patut dijadikan contoh untuk negara-negara lain, termasuk Indonesia. Bila negara maju seperti Jepang saja tidak malu melestarikan budaya dan kesenian mereka, mengapa kita yang negara maju masih merasa malu?

Ikebana, Kesenian Jepang yang Sederhana dan Memikat

Dari semua kesenian yang berasal dari negeri Jepang, ikebana merupakan salah satu kesenian Jepang yang sangat populer dan telah meluas ke seluruh dunia. Ikebana memfokuskan pada pengaturan garis linier dan banyak memberikan pengaruh pada seni merangkai bunga di Eropa.

Seni ini berkembang pada abad ke-7 seiring dengan perkembangan agama Budha di Jepang. Pada awalnya, ikebana hanya dapat dinikmati oleh kaum bangsawan. Namun, seiring waktu, seni ini merambah ke segala jenis lapisan masyarakat. Ikebana dapat diartikan sebagai bunga segar.

Apa Itu Kesenian Jepang Ikebana?

Ikebana adalah seni merangkai bunga yang berasal dari Jepang. Kata ‘Ikebana’ sendiri berasal dari kata ‘ikeru’ yang berarti ‘menjaganya tetap hidup’, ‘hidup’, atau ‘merangkai bunga’ dan kata ‘hana’ yang berarti ‘bunga’. Jika diartikan secara harfiah ikebana memiliki dua buah arti, yaitu menjaga bunga agar tetap hidup dan merangkai bunga.

Kegiatan perangkaian bunga pada kesenian Jepang Ikebana tidak sekadar menempatkan bunga ke dalam suatu wadah. Hal ini tidak semudah kelihatannya. Dalam Ikebana, bunga adalah rangkaian kehidupan yang mempersatukan jiwa manusia dan alam sekitarnya. Ikebana memiliki filosofi untuk mendekatkan manusia dengan alam.

Ikebana, seperti bentuk seni lainnya, adalah sebuah ekspresi kreatif yang dibingkai peraturan-peraturan tertentu. Dalam sebuah Ikebana, biasanya terdapat elemen macam-macam bunga, rerumputan, ranting-ranting, serta daun-daun. Elemen-elemen tersebut membentuk sebuah kombinasi kesatuan warna yang indah, selaras, dan alami.

Sejarah Kesenian Jepang Ikebana

Tidak ada catatan sejarah yang secara jelas menerangkan asal-usul Ikebana. Akan tetapi saat agama Budha mulai berkembang di Jepang pada abad ke-7, kesenian Ikebana mulai dilaksanakan oleh masyarakat Jepang sebagai bentuk praktik agama Budha.

Awalnya rangkaian bunga Ikebana dibuat dan dipersembahkan untuk menghormati Budha. Namun lama-kelamaan fungsi Ikebana berubah dari ritual agama Budha menjadi sesajian bunga untuk arwah leluhur.

Gaya Ikebana klasik yang pertama mulai ada sejak abad ke-15. Murid dan siswa sekolah Ikebana saat itu adalah para pendeta Budha dan anggotanya. Seiring berjalannya waktu, aliran-aliran Ikebana semakin banyak bermunculan, gaya perangkaian bunganya semakin bervariasi, dan Ikebana tumbuh menjadi salah satu kesenian Jepang yang banyak digemari masyarakat di sana.

Aliran Ikebana yang tertua muncul sejak 500 tahun silam. Aliran tersebut bernama Ikenobo. Aliran Ikenobo berawal dari seorang pendeta di Kuil Rokkakudo di Kyoto yang sangat terampil merangkai bunga, sehingga pendeta-pendeta lain banyak belajar darinya. Pendeta tersebut tinggal di sisi danau. Dalam bahasa Jepang, danau berarti ikenobo. Dari situlah nama aliran ini berasal.

Kuil Rokkakudo sendiri dibangun pada tahun 587 oleh Pangeran Shotoku. Konon, saat Pangeran Shotoku sedang mencari bahan-bahan material untuk membangun kuil tersebut ia pergi berendam di sebuah kolam. Pada sebuah pohon di dekat kolam, digantungnya sebuah jimat kepercayaan agama Budha.

Selesai mandi, ia berusaha mengambil jimat tersebut, tetapi tidak bisa. Malamnya, ia bermimpi bertemu Budha. Budha menyuruhnya untuk membangun kuil di dekat kolam, tepatnya di bawah pohon cedar, di bawah langit keunguan.

Gaya Merangkai Bunga dalam Kesenian Jepang Ikebana

Kesenian Jepang Ikebana di zaman dahulu sangat sederhana dan minimalis. Sebuah Ikebana dahulu biasanya hanya terdiri dari beberapa tangkai bunga dan ranting. Ikebana yang seperti ini disebut Kuge.

Di akhir abad ke-15, pola dan gaya merangkai bunga semakin berkembang. Ini menyebabkan semakin banyak orang yang menyukai keindahan Ikebana, bukan hanya keluarga kerajaan tetapi juga rakyat jelata.

Ikebana bertansformasi dari sebuah bagian ritual keagamaan menjadi seni yang ekspresif. Ikebana hadir di berbagai festival tradisional; bahkan pameran Ikebana sering diadakan secara berkala. Cara-cara merangkai Ikebana semakin berkembang, banyak buku ditulis tentangnya. Buku pertama tentang Ikebana adalah “Sedensho”. Buku ini diperkirakan terbit dan beredar pada tahun 1443 sampai 1536.

Inilah beberapa gaya tradisional dalam merangkai bunga Ikebana:

Rikka. Pada gaya perangkaian Rikka, bunga diatur berdiri tinggi dengan batang utama yang didampingi 2 buah batang yang lebih pendek. Para bangsawan Jepang di tahun 1560 – 1600 suka membuat dekorasi Ikebana Rikka yang besar untuk mendekorasi istananya. Gaya Ikebana Rikka sendiri dikembangkan sebagai sebuah ekspresi penganut Budha akan keindahan alam.

Nageire. Gaya perangkaian bunga Nageire memiliki sebuah ciri khas, yakni tangkai-tangkai yang diikat kuat-kuat sehingga membentuk rangkaian bunga asimetris berbentuk segitiga. Gaya Ikebana Nageire dikembangkan sebagai kesenian Jepang Ikebana khusus untuk mendekorasi ruangan upacara minum teh.

Seika atau Shoka. Ikebana gaya Shoka hanya memiliki 3 elemen ranting, yang diibaratkan sebagai surga, bumi, dan manusia. Gaya penataannya lebih sederhana dan minimalis, sehingga kecantikan elemen-elemen bunga lebih terpancarkan.

Jiyuka. Jiyuka adalah gaya Ikebana yang sangat mengizinkan pelakunya bebas berkreasi. Tidak harus menggunakan bunga, bahan-bahan apa pun boleh digunakan pada gaya Jiyuka.

Seiring dengan perkembangan zaman, gaya merangkai bunga dalam kesenian Jepang Ikebana semakin modern. Di abad ke-20, berkembang gaya-gaya lain dari berbagai aliran Ikebana. Beberapa gaya perangkaian bunga Ikebana modern tersebut adalah:

Gaya Moribana tegak lurus.  Ini adalah gaya perangkaian paling mendasar dari kesenian Ikebana. Kata Moribana sendiri berarti “bunga yang ditumpukkan”.

Gaya Moribana miring. Ini adalah kebalikan dari gaya Moribana tegak lurus. Pada gaya Moribana miring, bunga dirangkai berdasarkan peletakannya di wadah atau berdasarkan bentuk ranting-rantingnya. Jika ranting-ranting tersebut terlihat indah saat dicondongkan, maka gaya ini akan dipilih. Dibandingkan gaya Moribana tegak lurus yang berkesan kaku, gaya ini berkesan lebih lembut.

Gaya Nageire miring. Pada Ikebana gaya ini bunga ditempatkan di sebuah wadah tinggi bermulut sempit (seperti vas). Nageire sendiri secara harfiah berarti “memasukkan”. Ini adalah bentuk Ikebana sederhana yang hanya terdiri dari setangkai bunga.

Gaya Nageire miring. Gaya ini menunjukkan fleksibilitas dan sentuhan lembut. Cocok bagi pemula Ikebana.

Gaya Nageire mengalir. Pada rangkaian ini, tangkai utama menggantung lebih rendah dari bibir vas. Bahan-bahan yang fleksibel akan menghasilkan efek yang indah berdampingan dengan bunga.

Seni dan Kreativitas Kesenian Jepang Ikebana

Seni tradisional yang dipadukan dengan imajinasi dan kreativitas perangkai menjadikan ikebana sebagai karya estetika yang mampu mencuri hati banyak orang. Karena banyaknya peminat, lahirlah sebuah organisasi yang bernama Ikebana International. Organisasi ini tersebar di 50 negara dan beranggotakan lebih dari 10 ribu orang.

Di Indonesia, khususnya Jakarta, pada 1984 telah didirikan komunitas pecinta ikebana. Melalui komunitas inilah seni merangkai bunga yang berasal dari Jepang diperkenalkan kepada masyarakat melalui festival dan pelatihan. Penekanan pada aspek seni dalam ikebana sangat penting. Hal ini berguna untuk mencapai kesempurnaan dalam penataan bunga.

Biasanya, kesenian Jepang ini memanfaatkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan seperti bunga, akar, ranting kayu, bambu, buah-buahan, dan rumput-rumputan. Tumbuh-tumbuhan ini kemudian dirangkai menjadi kesatuan dengan menyatukan unsur utama, yaitu mewakili alam dan manusia yang bertujuan untuk dinikmati keindahannya.

Ikebana bersifat sangat sederhana dan hanya menggunakan sedikit tanaman sehingga penerapannya tidak membutuhkan biaya yang besar. Namun, berkat kombinasi pemilihan tumbuhan yang tepat, warna, bentuk, maupun wadah menjadikan seni ini sangat memikat untuk dilihat dan bernilai seni tinggi. Hal inilah yang membedakannya dengan seni merangkai bunga yang berasal dari barat, yang hanya bersifat dekoratif dengan banyak menggunakan bunga dan beragam media.
Bahan-bahan untuk merangkai kesenian Jepang ikebana sangat mudah didapatkan, bisa berasal dari taman, halaman, atau lingkungan di sekitar rumah sehingga lebih praktis. Keindahan tidaklah selalu identik dengan harga yang mahal. Namun, kesederhanaan yang dijiwai dengan kreativitas dan cinta yang besar mampu menghadirkan nilai seni yang unik dan indah.

Semoga Bermanfaat
Arigatou Gozaimasu^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s